Kebahagiaan bukan berarti kesempurnaan. Bahagia adalah tentang bagaiamana kita memandang hidup kita sendiri. Dua kalimat itu sebenarnya mengajari kita akan arti beersyukur. Yaitu tenteng mensyukuri hidup kita sendiri. Walaupun hidup kita tidak sempurna.
Karena tak ada manusia di dunia ini yang sempurna katanya. Kok katanya? kan aku belum buktiin sendiri. Gimana mau buktikan coba. Emang mau survei orang sedunia? Hehee... Tapi mau gimana lagi ya. Aku jadi ikut percaya aja deh. Daripada suruh buktiin. hehee
Kan emang yaa kalo mau punya teori sendiri, juga harus punya bukti buat memperkuat teori itu. Hehee... Kayak itu kan ada teori tentang manusia purba yang katanya kita itu berasal dari monyet. Aneh banget kan. Masak manusia dari monyet.
Mungkin yang bikin teori itu ngerasa kali yaa kalo dia itu turunan monyet. Atau ngerasa kalo dulunya monyet. hehee Tapi kerena teori itu memiliki bukti dan diusung beberapa pihak, bahkan diajarkan di sekolah juga, jadinya dipercaya banyak orang.
Btw kan dari tadi aslinya bahas syukur yaa kok malah jadi ke situ situ. hehee tapi tak apa lah. itung itung ngeluarin uneg uneg. baiklah kita kembali ke sukur tadi. Karena kan berkaitan banget dengan keseharian kita.
Kalo kita ingin bahagia, maka srukuri apa yang ada pada diri kita. Karena ketika kita merasa bersukur, kita akan berasa cukup dalam keadaan apapun. Ketika kita merasa menderita, kalo kita bersyukur, kita jadi tau bahwa ada yang lebih menderita dari kita.
Intinya kita akan merasa jauh lebih beruntung dari pada yang tidak beruntung. Ya iya lah. hehee... Maksudnya kita akan merasa cukup, daripada harus lebih menderita lagi. Dan itu kemungkinan besar akan memicu rasa bahagia hadir.
Gak percaya, buktikan aja. Aku jamin manjur kok. hehee
Sumber: Ghulam Nazih

0 komentar:
Posting Komentar